MENGHITUNG ARAH QIBLAT DAN MENENTUKANNYA
Oleh : Ibnu Zahid Abdo el-Moeid
Homepage : http://moeidzahid.site90.net Email moeidzahid@telkom.net
Jika kesulitan membuka halaman ini anda bisa downlaod dalam bentuk PDF
Download makalah ini dalam format PDF Alternatif download 4Shared
ARAH QIBLAT
Qiblat berasal dari bahasa arab (ÇáÞÈáÉ)
yang artinya arah. Yang dimaksud dengan qiblat adalah arah mata angin yang
menuju ke Ka'bah di Makkah Al-Mukarraomah. Adapun yang dimaksud dengan arah
adalah arah dengan jarak terdekat, bukan arah sebaliknya (180°). Contoh : kota Jakarta arahnya adalah sebelah barat kota Surabaya, kita
tidak bisa mengatakan bahwa kota Jakarta adalah sebelah timur kota Surabaya,
walaupun jika kita naik pesawat dari Surabaya ke arah timur mengelilingi dunia
ini nantinya juga ketemu kota Jakarta, akan tetapi yang dimaksud arah adalah arah
dengan jarak terdekat.
Dimanapun kita berada ketika melaksanakan sholat,
baik sholat sunnah maupun fardlu diharuskan menghadap ke arah qiblat. Dari
empat mazhab, Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali sepakat bahwa salah satu
syarat sahnya sholat adalah menghadap ke arah qiblat, yakni ke Ka'bah di Makkah
Al-Mukarromah dan tidak ke yang lainnya. Karena menghadap ke arah qiblat adalah
menjadi syarat syahnya sholat, maka hukum untuk mengetahui arah qiblat adalah
wajib.
Selama di Madinah kurang lebih 16 bulan
sejak hijrah, ketika sholat, Rosululloh SAW diperintahkan menghadap ke Baitul
Maqdis di Palestina. Hal ini mengakibatkan orang-orang Yahudi yang saat itu
mayoritas di Madinah seringakali mencemooh Rosululloh SAW, mereka berkata
"Muhammad itu ambivalen, tidak mau menerima agama kita(Yahudi)akan tetapi
sholatnya menghadap ke tempat suci agama kita". Karena sering mendapatkan
serangan tersebut, setiap malam Rosululloh SAW. bermunajat kepada Alloh SWT
untuk meminta petunjuknya
Akhirnya keinginan Rosululloh SAW.
Untuk kembali sholat menghadap ke ka'bah dikabulkan oleh Alloh SWT dengan
turunnya ayat ke 144 surat Al-Baqoroh pada hari Senin 17 Rojab tahun kedua
hijrah. Saat itu Rosululloh sholat di masjid Bani Salamah (Masjid Qiblatain).
Firman Alloh dalam Al-Qur'an :
ÞóÏú äóÑóì ÊóÞóáøõÈó æóÌúåößó Ýöí ÇáÓøóãóÇÁö
Ýóáóäõæóáøöíóäøóßó ÞöÈúáóÉð ÊóÑúÖóÇåóÇ Ýóæóáøö æóÌúåóßó ÔóØúÑó ÇáúãóÓúÌöÏö
ÇáúÍóÑóÇãö æóÍóíúËõ ãóÇ ßõäúÊõãú ÝóæóáøõæÇ æõÌõæåóßõãú ÔóØúÑóåõ æóÅöäøó
ÇáøóÐöíäó ÃõæÊõæÇ ÇáúßöÊóÇÈó áóíóÚúáóãõæäó Ãóäøóåõ ÇáúÍóÞøõ ãöäú ÑóÈøöåöãú
æóãóÇ Çááøóåõ ÈöÛóÇÝöáò ÚóãøóÇ íóÚúãóáõæäó (ÇáÈÞÑÉ 144)
Artinya : Sungguh Kami (sering)
melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke
qiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana
saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang
(Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui,
bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah
sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (Al-Baqoroh 144)
|
|
|
MENGHITUNG ARAH QIBLAT
Arah Ka'bah yang berada di kota Makkah dapat diketahui dari tempat manapun di permukaan bumi ini dengan menggunakan ilmu ukur segitiga bola atau trigonometri bola (spherical trigonometri) yakni ilmu ukur sudut bidang datar yang diaplikasikan pada permukaan berbentuk bola yaitu bumi yang kita tempati. Untuk membayangkan arah qiblat, berikut ilustrasi segitiga bola arah qiblat dalam bola dunia. Lihat gambar 3.0

Gambar 3.0
Untuk menghitung arah qiblat, data-data yang diperlukan hanya dua yaitu
koordinat Ka’bah dan koordinat lokasi perhitungan (markas).
1. Lintang Ka'bah (fk). 2. Bujur Ka'bah (lk).
3. Lintang markas (f). 4. Bujur markas (l).
Adapun posisi
ka’bah berdasarkan GPS adalah: 21° 25' 25" lintang
utara, 39° 49' 39" bujur
timur, kita tinggal mencari data bujur dan lintang tempat yang akan di hitung
arah qiblatnya. Kita bisa mendapatkannya dari buku buku geografi, seperti Atlas
Indonesia dan Dunia, Taqwim Standar Indonesia, Tabel Geografis Kota-kota Dunia
dan lain-lainnya. Apabila kita kesulitan mencari data lintang dan bujur
tersebut, maka kita bisa mengukurnya dengan bantuan GPS (global position
system) alat navigasi berbasis satelit yang didesain untuk mengkalkulasi
lintang dan bujur, serta ketinggian suatu tempat di permukaan bumi ini. Bagi
yang memakai komputer bisa menggunakan Atlas Encarta dan jika ada
koneksi ke internet akan lebih bagus menggunakan Google Earth. Contoh
menggunakan Encarta Word Atlas Lihat gambar 3.2. Contoh menggunakan Google
Earth Lihat gambar 3.3
|
|
|
data bujur dan lintang tempat yang akan kita hitung arah qiblatnya
tersebut sudah ditemukan, maka selanjutnya tinggal menghitungnya dengan rumus
sebagai berikut:
Cotan B = Cotan b Sin a -
Sin c
Algoritma :
Sisi a (a) = 90° –
lintang markas
Sisi b (b) =
90° – lintang ka'bah
Sisi c (c) =
bujur markas – bujur ka'bah
Aq =
tan-1
(1/ tan b x sin a / sin c
– cos a x 1/tan c)
Az = Jika c lebih kecil dari 0 maka Az = 90 +
Aq
Jika c
lebih besar dari 0 maka Az = 270 + Aq
Contoh perhitungan arah qiblat
menggunakan formula Excel dengan markas perhitungan Masjid Agung Surabaya
Data ka’bah : Lintang = 21° 25' 25" LU Bujur
= 39° 49' 39" BT
Data lokasi : Lintang = 7° 20' 11,91" LS Bujur
= 112° 42' 54,47" BT
Buka file "001_arah_qiblat",
yang disertakan dalam makalah ini, lalu pilih sheet “Latihan Arah Qiblat”. Apabila
file tersebut tidak disertakan di dalam makalah ini, anda bisa download di link
berikut ini
http://moeidzahid.site90.net/software/001_arah_qiblat.xls. Kemudian ikuti
langkah-langkah berikut ini:
a.
Masukkan data lintang Ka’bah kedalam
sel C4, D4, dan E4 (C4=derajat, D4=menit, E4=detik).
b.
Masukkan data bujur Ka’bah kedalam sel
C5, D5, dan E5 (C5=derajat, D5=menit, E5=detik).
c.
Masukkan data lintang markas kedalam
sel C6, D6, dan E6 (C6=derajat, D6=menit, E6=detik). Jika lintang markas
berada di sebelah selatan katulistiwa, maka setiap input data lintang ditambahi
dengan "-" (mines), contoh lintang 7° 20' 11,91" LS maka input datanya = -7° -20' -11,91"
d.
Masukkan data bujur markas kedalam sel C7, D7, dan
E7. Jika bujur markas berada di sebelah barat kota Greenwich, maka setiap input
data bujur ditambahi dengan "-" (mines).
e.
Perlu diketahuai bahwa data lintang dan bujur
diatas masih dalam format derajat, ubahlah menjadi desimal, karena di dalam
Excel tidak mengenal pola perhitungan dalam format derajat. Arahkan pointer
kedalam sel F4 untuk merubah data lintang menjadi desimal dengan formula
berikut :
F4=C4+D4/60+E4/3600. = 21,42361111
» Lakukan hal yang sama
terhadap data bujur Ka’bah, lintang tempat serta bujur
tempat, sehingga semua data lintang dan
bujur menjadi desimal.
a.
Sisi a (a) = 90°–lintang markas.
Arahkan pointer ke F9 lalu isi dengan formula berikut :
F9=90-F6 = 97,33664167
b.
Sisi b (a) = 90°–lintang ka'bah (21,42361111). Arahkan pointer ke F10 lalu isi dengan formula berikut
: F10=90-21,42361111 =-111,4236111
c.
Sisi c (c) = bujur markas – bujur ka'bah (39,8275). Arahkan pointer ke F11 lalu isi dengan formula berikut :
F11=F7-39,8275 =72,88763056
tan-1(1/tan b x sin a / sin c – cos a x 1/tan c).
Arahkan pointer ke F13
lalu isi dengan formula berikut :
ATAN(1/TAN(F10*dr)*SIN(F9*dr)/SIN(F11*dr)-COS(F9*dr)*1/TAN(F11*dr))*180/PI() =24,06079055
Jika c lebih kecil dari
0 maka Az = 90 + Aq
Jika c lebih besar dari
0 maka Az = 270 + Aq
Arahkan pointer ke F14
lalu isi dengan formula berikut :
=IF(F11<0;F13+90;F13+270) =294,0607905
=294° 03' 39”
Kesimpulannya azimut arah qiblat Masjid Agung Surabaya adalah 294,0607905 (294°
03' 39”), yakni 24,0607905 (24° 03' 39”) dari arah barat ke utara
MENENTUKAN ARAH QIBLAT
Setelah
azimut arah qiblat sudah kita ketahui, selanjutnya adalah mengukur dan
menentukannya. Yang dimaksud dengan mengukur dan menentukan azimut arah qiblat
pada dasarnya adalah menentukan arah utara sejati terlebih dahulu, baru
kemudian mengkalibrasikannya ke arah qiblat yang dimaksud. Ada banyak cara dan metode
untuk menentukan arah utara sejati, mulai dari kompas yang sederhana, tongkat
istimewa sampai dengan alat survey dan navigasi yang berbasis satelit.
1.
KOMPAS
Dari beberapa cara
untuk menentukan arah utara sejati, kompas adalah pilihan yang paling mudah
dijangkau, khususnya bagi yang berkantong tipis dan juga mudah
pengaplikasiannya bagi yang masih amatiran di bidang hisab dan rukyat. Dari beberapa macam kompas, secara garis
besar dibagi menjadi dua, yang pertama adalah Kompas Magnetik dan yang
kedua adalah Kompas Digital.
A.
KOMPAS MAGNETIK.
Ada banyak macam jenis kompas magnetik dijual di pasaran. Kompas magnetik
bekerja berdasarkan pengaruh medan magnet bumi yang membuat jarum magnet yang
terdapat pada kompas magnetik selalu menunjuk ke arah Utara dan Selatan. Dengan
harga yang murah kita sudah bisa memiliki kompas namun dengan ketelitian yang
rendah pula. Kompas magnetik yang memiliki ketelitian cukup tinggi harganya
cukup mahal diantaranya jenis Suunto, Brunton, Marine, Furuno dan lain lain.

Beberapa model Kompas
Magnetik
Deviasi Magnetik
Deviasi adalah kesalahan baca jarum kompas yang disebabkan oleh pengaruh
benda-benda logam disekitar kompas, misalnya besi, mesin atau pengaruh alat-alat
elektronik yang mengandung medan magnet seperti Dinamo Listrik, Handy
Talky, dan Handphone, terutama saat transmit. Karena itu pada saat
ini pengukuran arah qiblat dengan kompas magnetik sangat tidak dianjurkan,
karena karakter bangunan sekarang cenderung terbuat dari beton dan lagi
banyaknya medan listrik di sekitar kita, dimana akan sangat mempengaruhi
penunjukan jarum kompas. Kompas magnetik ini mungkin masih relevan jika
digunakan untuk daerah yang karakter bangunannya terbuat dari kayu dan jauh
dari pabrik serta jaringan listrik. Deviasi dapat diabaikan bila kita yakin
benda-benda berpengaruh tersebut tidak ada di sekitar kompas.
Variasi Magnetik
Banyak orang yang mengira bahwa ujung jarum kompas menunjukkan arah utara sejati
(True North), padahal tidaklah demikian. Jarum utara kompas menunjukkan
arah utara magnetis (Magnetic North). Jarum kompas selalu mengikuti arah
medan magnet bumi, karena kompleksnya pengaruh yang ada di permukaan bumi di
setiap tempat, arus magnet bumi tidak selalu menunjukkan arah utara sebenarnya.
Sudut antara utara magnet (Magnetic North) dengan utara sebenarnya (True
North) dinamakan Variasi (Variation atau Deklinasi Magnetis/Magnetic
Declination). Nilai variasi ini selalu berbeda disetiap waktu dan tempat. Lokasi
magnet di Kutub Utara selalu bergeser dari masa ke masa.
Kutub utara magnet Bumi pertama kali ditemukan pada tahun 1831 dan ketika
diukur kembali pada tahun 1904, ternyata letaknya telah bergerak sejauh 50
kilometer. Penelitian terakhir yang dilakukan oleh The Geological Survey of
Canada melaporkan bahwa posisi magnet ini bergerak kira-kira 40 km per
tahun ke arah barat laut.
B.
KOMPAS DIGITAL.
Perkembangan teknologi modern
banyak memunculkan alat-alat yang membantu kita dalam kehidupan sehari-hari,
termasuk diantaranya kompas digital. Kompas digital bekerja berdasarkan informasi
dari satelit GPS (Global Positioning Sistem) yang diolah dengan
perhitungan yang rumit sehingga menghasilkan data koordinat dan arah qiblat
lokasi dengan presisi. Kini telah banyak dibuat model kompas dengan menggunakan
sistem digital. Bahkan sekarang telepon
mobile yang berkelaspun sudah banyak yang dilengkapi kompas digital tersebut.

Beberapa model Kompas
Digital
A.
QIBLAT DAY.
Menggunakan bayangan matahari
pada saat Qiblat Day (hari penentuan arah qiblat), Yaumu Roshdil
Qiblah. Atau istilah lain Istiwaul
A’dhom. Yakni ketika matahari berada tepat diatas ka’bah. Dalam setahun,
matahari tepat diatas ka’bah terjadi dua kali yaitu
pada tanggal 28 Mei pukul 16.18 WIB
(12:18 waktu Saudi) dan pada tanggal 16 Juli pukul 16.27 WIB (12:27 waktu
Saudi). Pada saat itu semua bayangan benda yang berdiri tegak lurus akan
menghadap ke arah ka’bah. Lihat gambar 5.0
|
|
|
Seperti kita ketahui bahwa
bayangan matahari terpendek bahkan tidak ada sama sekali adalah ketika posisi
matahari berada di titik zenit, sehingga bagi penduduk Makkah dan sekitaranya,
momen Qiblat Day ini hampir tidak bisa dijadikan patokan untuk mengetahui arah
qiblat. Pada saat Qiblat Day, matahari benar-benar diatas Ka’bah sehingga benda
yang berdiri tegak di sekitar Ka’bah (Makkah) tidak menimbulkan bayangan sama
sekali. Semakin dekat dengan Ka’bah semakin sulit menggunakan momen Qiblat Day
ini.
Tidak semua wilayah bisa
memanfaatkan fonemena Istiwaul A’dhom yang terjadi di kota Makkah ini. Penentuan
qiblat pada saat Qiblat Day ini hanya bisa digunakan oleh kaum muslimin dari
tiga benua yaitu Asia, Afrika dan Eropa, sementara Amerika dan Australia tidak
bisa memanfaatkan momen ini karena pada saat tersebut di Amerika matahari belum
terbit dan di Australia matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Wilayah
Indonesia juga bisa memanfaatkan fonemena ini kecuali Indonesia bagian timur.
Secara umum negara-negara yang
bisa memanfaatkan qiblat day ini hanya negara yang perbedaan waktunya tidak
lebih dari 5 jam dengan waktu Makkah, atau bujurnya tidak lebih dari 90º
dari Makkah ke barat mupun ke timur. Berikut peta negara-negara yang bisa menggunakan
Yaumu Roshdil Qiblah. Lihat
gambar 5.1

Gambar 5.1
Fenomena Istiwa
Utama (Istiwaul A’dhom) terjadi akibat gerakan semu matahari yang
disebut gerak tahunan matahari
(musim). Matahari terlihat dari bumi mengalami pergeseran 23,5˚ LU sampai
23,5˚ LS. Pada saat nilai azimuth matahari sama dengan nilai azimuth
lintang geografis sebuah tempat maka di tempat tersebut terjadi Istiwa Utama
yaitu melintasnya matahari melewati zenith. Dalam bahasa sederhana Istiwa Utama
adalah saat Dhuhur dimana nilai deklinasi matahari sama dengan lintang tempat.
Dalam bahasa Jawa peristiwa ini
disebut dengan Tumbuk. Tumbuk terjadi di wilayah Jawa juga dua kali.
Yang pertama antara tanggal 28 Februari sampai 4 Maret, sedangkan yang kedua
antara 9 Oktober sampai 14 Oktober. Pada saat tumbuk yang kedua matahari sangat
menyengat karena bertepatan pada musim kemarau.
B.
BAYANGAN HARIAN MATAHARI.
Disamping pada saat Qiblat Day, setiap
hari kita juga bisa menentukan arah qiblat berdasarkan bayangan matahari. Bayangan
benda yang berdiri tegak akan menghadap ke arah qiblat ketika pada
perjalanannya dari timur ke barat, matahari bersinggungan dengan azimut qiblat
setempat atau perlawanan azimut qiblat setempat (180°).
Pada perjalanan hariannya,
matahari berjalan semu dari timur ke barat dan bergeser dari utara ke selatan
dan sebaliknya. Matahari bergeser ke utara maksimal 23,5° LU, dan kembali ke
selatan maksimal 23,5°, LS, sehingga mengakibatkan waktu bertemunya azimut
matahari dengan azimut qiblat setempat berubah setiap harinya.
Saat deklinasi matahari nilainya
plus (antara Maret – September) maka bayang-bayang qiblat terjadi sesudah waktu
Dhuhur, jika deklinasi matahari nilainya mines (antara September – Maret) maka
bayang-bayang qiblat terjadi sebelum dhuhur. Jika bayangan qiblat terjadi
sebelum Dhuhur maka ujung bayangan menghadap qiblat akan tetapi jika terjadi
setelah Dhuhur maka ujung bayangannya membelakangi qiblat.
Berikut gambaran perjalanan semu
matahari yang berjalan dari timur ke barat dan bergeser sedikit demi sedikit
dari utara ke selatan dan sebaliknya.

Gambar 6.0
RUMUS MENGHITUNG BAYANG-BAYANG QIBLAT.
f = Lintang tempat
l = Bujur Tempat
fk = Lintang Ka'bah
lk = Bujur Ka'bah
d = Deklinasi matahari e = Equation of time
Tz =
Time zone bwd = Tz x 15
Sb =
tan-1
(1/ (1/ tan Aq x
sin
f ))
BQ = ((
cos-1
(1/ tan
f x tan
d x cos Sb)) + Sb
)/ 15 + (12 –
e - (
l - bwd ) /15)
Berikut contoh untuk menghitung
bayang-bayang Arah Qiblat dengan Markas Masjid Agung Surabaya (l:112°42'54,47"
f:-7°20'11,91") pada tanggal 12 Desember 2009 M. dengan memakai deklinasi dan
equation of time matahari taqribi.
fk (F26) = 21° 25' 25" = 21,42361111
lk (F27) = 39° 49' 39" = 39,8275
f (F29) = -7° 20' 11,91" =
-7,336641667
l (F30) = 112° 42' 54,47" =
112,7151306
Tz (F31) =
7
Bwd(F32) =
Tz x 15 = 7 x 15 = 105
d (F34) = -23° 03' 00" = -23,05
e (F35) = 06' 30" =
0,108333333
Sb (F37) =
tan-1 (1/ (1/ tan Aq x sin
f ))
= ATAN (1/(1 /TAN(F13 * dr)*
SIN(F29
* dr)))* 180/PI() = -74,0395008
BQ (F38) = ((cos-1(1/tan
f x tan
d x cos Sb))
+ Sb)/15+(12 – e -(l - Bwd)/15)
= (((ACOS(1/TAN(F29*dr)*TAN(F34*dr)*COS(F37*dr))
*180/PI())+F37)/15+(12-F35-
(F30-F32)/15)) = 8,085899561
= 08:05:09 LT
Berdasarkan perhitungan pendekatan
diatas, di Masjid Agung Surabaya pada
tanggal 12 Desember 2009, bayang-bayang matahari menghadap qiblat pada pukul 08:05:09
WIB. Untuk lebih akuratnya, setelah waktu bayang-bayang diketahui sebaiknya perhitungan
ini diulang kembali dengan deklinasi serta equation of time menggunakan rumus
dengan acuan waktu diatas, yakni tidak lagi menggunakan deklinasi dan equation
of time taqribi. Rumus untuk mencari deklinasi dan equation of time matahari akan
diuraikan di akhir tulisan ini.
3.
LINGKARAN BUSUR
Cara lain untuk menentukan arah
qiblat yaitu dengan menggunakan busur lingkaran. Untuk menentukan utara sejati (True
North) busur, gunakan bayangan matahari sebagai penentu azimut, dengan langkah
sebagia berikut :

Gambar 7.0 dan Gambar 7.1
Misalnya: Setelah
dihitung, azimut matahari bernilai 125° 22' 21" maka dengan demikian di antara
empat mata angin (90°,180°,270°,360°) yang paling dekat adalah kearah 90° yakni
arah timur, maka busur lingkaran kita kalibrasikan ke arah timur
Selanjutnya
tarik garis dari titik a ke titik c (titik c adalah arah mata
angin terdekat), tarik ke kanan jika azimut lebih kecil dari titik c, dan tarik
ke kiri jika azimut lebih besar dari titik c. Hitung nilai panjang busur a dan c dengan
rumus segitiga sama kaki sebagai berikut.
Buka file
"001_arah_qiblat", lalu pilih sheet “Deklinasi”.
Sudut b (F72) = abs(arah terdekat – az )
= abs(90-125,3725119) =35,37251193
r (F73) = jari-jari lingkaran =50
Jarak a-c (F74)= r /sin ((180 - b) /
2 ) x sin b
= F33/SIN(((180-F72)/2)*
dr)*
SIN(F72 *dr) = 30,3804529
Jadi jarak a-c = 30,3804529 cm,
tarik garis lurus melewati lingkaran ke arah kiri sepanjang 30,3804529 cm,
itulah titik timur sejati. Lihat gambar 7.2

Gambar 7.2
Untuk arah mata angin
yang lainnya tinggal menariknya 90 derajat ke kiri maupun ke kanan dengan rumus
segitiga sama kaki yang telah diterangkan diatas. Untuk sudut 90° dengan
jari-jari lingkaran 50 cm maka jarak antara kaki a dan c =70,71067812 cm

Gambar 7.3
Untuk menentukan arah
qiblatnya, tarik garis dari titik barat ke arah utara sejauh azimut qiblat yang
dihitung dari arah barat misalnya arah qiblat 294° 03' 39'' maka 24° 03' 39'',
dengan cara seperti yang telah kita lakukan dalam menentukan arah timur. Lihat
Gambar 7.4

Gambar 7.4
4.
THEODOLITE
Theodolite adalah alat yang
digunakan untuk mengukur sudut horisontal (Horizontal
Angle = HA) dan sudut vertikal (Vertical
Angle = VA). Alat ini banyak digunakan sebagai piranti pemetaan pada survey
geologi dan geodesi. Dengan berpedoman pada posisi dan pergerakan benda-benda
langit misalnya matahari sebagai acuan atau dengan bantuan satelit-satelit GPS
maka theodolite akan menjadi alat yang dapat mengetahui arah secara presisi
hingga skala detik busur.
Pada dasarnya alat ini merupakan
sebuah teleskop yang ditempatkan pada sebuah piringan pertama yang berbentuk
bulat dan dapat diputar mengelilingi sumbu vertikal, sehingga bisa membaca sudut
horisontal. Teleskop tersebut juga dipasang pada piringan kedua yang dapat
diputar mengelilingi sumbu horisontal, sehingga bisa membaca sudut vertikal. Kedua
sudut tersebut, baik vertikal maupun horisontal dapat dibaca dengan tingkat
ketelitian sangat tinggi.
Setelah theodolite analog kini
banyak diproduksi theodolite dengan menggunakan teknologi digital sehingga
pembacaan skala jauh lebih mudah. Beberapa merk theodolite misalnya Nikon,
Topcon, Leica, Sokkia, dan lain-lainnya.

Theodolite Digital
Dengan theodolite digital kita
bisa mengukur arah qiblat dengan lebih presisi dari pada dengan media lainnya.
Yang paling penting dalam penggunaan theodolite dalam pengukuran arah qiblat
adalah pointing arah utaranya terhadap titik utara sejati (True North). Pointing
arah utara biasanya menggunakan acuan matahari, dengan membidik matahari di
saat tertentu kemudian menghitung azimutnya, lalu mengkalibrasikannya dengan
titik nol/utara theodolite. Didalam kondisi emergency pointing arah utara juga
bisa menggunakan kompas khusus yang dipasang diatas theodolite,
akan tetapi cara ini sangat tidak dianjurkan karena kompas bekerja berdasarkan
pengaruh medan magnet sehingga margin errornya tinggi, sangat disayangkan
ketika kita menggunakan alat ukur yang tingkat presisinya sangat tinggi (High
Precision), tetapi kalibrasinya menggunakan alat yang tingkat akurasinya
rendah (Low Precision) seperti kompas.
Untuk menggunakan theodolite,
berikut tahapan-tahapan yang perlu diketahui sehingga penggunaannya maksimal.
Sebagai contoh kita menggunakan Theodolite Nikon NE-102/NE-202 yang banyak
digunakan oleh DEPAG dalam praktik rukyat awal bulan.

Agar bisa maksimal dalam menggunakan theodolite
terlebih dahulu kita harus mempersiapkan segala sesuatunya secara seksama agar
akurasinya benar-benar bisa dipertanggung jawabkan.
SETTING WATERPAS
Langkah pertama untuk mempersiapkan theodolite
adalah setting waterpas. Agar setting waterpas
berlangsung cepat dan akurat maka dalam prosedurnya sebagai berikut.
|
|
|
|
|
|
SETTING
AZIMUT / MENENTUKAN ARAH UTARA SEJATI
Jika menggunakan kompas maka
margin errornya tinggi sehingga tingkat keakurasiannya rendah. Khusus untuk
lokasi-lokasi didalam gedung atau diatas konstruksi cor-coran beton sangat
tidak dianjurkan menggunakan kompas. Kompas bekerja berdasarkan medan magnit
sehingga akan sangat terpengaruh oleh kondisi tempat, semakin banyak logam
disekitar tempat tersebut maka semakin tinggi tingkat errornya.
Cara yang kedua adalah dengan
acuan matahari, dengan menggunakan matahari, kita tidak terganggu oleh kondisi
tempat, walupun lokasinya disekitar pabrik yang banyak logam dan medan
listriknya. Yang akan diuraikan disini adalah menggunakan acuan matahari.
Untuk memudahkan dalam membidik matahari sebaiknya
pengukuran dilakukan di pagi hari sebelum jam 9 atau sore hari diatas jam 15
agar pengintaian matahari dengan theodolite tidak mengalami kesulitan. Jika matahari terlalu tinggi, disamping
kesulitan dalam pengintaian, teleskop theodolite juga akan terhalang oleh
bagian atas theodolite itu sendiri.
Sebelum melakukan kalibrasi azimut theodolite, pastikan
waterpas theodolite benar-benar timbang/centre. Kemudian ikuti langkah-langkah
berikut ini.
Pada saat piringan matahari benar-benar di tengah-tengah frame target object maka catat waktunya, misalnya 17:01:24.

Gambar 8.4
Bulatkan nilai azimut ke dalam
nilai 5" (detik derajat), karena Gradian vertikal maupun horisontal
theodolite jenis Nikon NE-102/202 adalah 5", misalnya nilainya 81° 47’ 46”
maka dibulatkan ke 81° 47’ 45”.
CECKING AZIMUT THEODOLITE
Sebelum digunakan untuk mengukur qiblat maupun
rukyat hilal, sebaiknya kita cek terlebih dahulu theodolite yang telah kita
kalibrasi tadi dengan membidik matahari lagi untuk memastikan bahwa azimut
theodolite sudah benar-benar adjust.
Hitung azimut dan altitude matahari 10 menit yang
akan datang dari sekarang. Misalnya jam sekarang 17:00, maka hitung azimut dan
altitude matahari pada jam 17:10 dengan menggunakan software-software yang
sudah ada, seperti Starry Night, Ascript, Moncal 6 dan lainnya, atau dengan
rumus yang diuraikan dibagian akhir tulisan ini.
Selanjutnya
arahkan vertikal dan horisontal theodolite sesuai dengan perhitungan
azimut dan altitude matahari pada jam tersebut (17:10). Kalau sudah pas, lalu
tunggu sampai pukul 17:10 dan pada saat tersebut lihatlah matahari melalui lup
theodolite, jika pada saat tersebut piringan matahari berada tepat di
tengah-tengah target frame object, maka azimut theodolite sudah benar,
dan jika piringan matahari tidak tepat di tengah-tengah target frame object
maka kalibrasi theodolite perlu diulang kembali sampai azimut theodolite
benar-benar tepat.
APLIKASI THEODOLITE DALAM PENENTUAN ARAH QIBLAT
Setelah kalibrasi azimut theodolite berjalan
sukses, kita tinggal mengarahkan theodolite ke target yang kita kehendaki
sesuai dengan keperluannya. Untuk menentukan arah qiblat, ikuti langkah-langkah
sebagai berikut.
1.
Buatlah tanda titik pertama atau paku di permukaan
tanah atau lantai yang berada di bawah bandul theodolite, beri nama titik
tersebut dengan titik "A", Lihat Gambar 8.5.
2.
Buka kunci knop horisontal (horisontal clamp
cnop) lalu arahkan azimut theodolite dengan tangan ke arah qiblat lokasi
tersebut yang sudah dihitung sebelumnya, misalnya 294° 03' 39”. Eratkan kembali
kunci horisontal jika azimut theodolite sudah mendekati nilai azimut qiblat
setempat, lalu putar pelan-pelan menggunakan knop horisontal (horisontal tangent
screw)
sampai nilai horisontal theodolite benar-benar pas dengan nilai arah qiblat
setempat.
Bulatkan nilai azimut qiblat setempat ke dalam
nilai 5" (detik derajat), karena gradian horisontal maupun vertikal
theodolite jenis Nikon NE-102/202 adalah 5", misalnya nilai qiblatnya 294° 03' 39” maka dibulatkan ke 294° 03' 40”
3.
Buka kunci knop vertikal (vertical clamp cnop),
lalu arahkan teleskop theodolite ke permukaan tanah atau lantai dengan obyek
target kira-kira 10 meter dari theodolite. Lihatlah obyek melalui lup teleskop
theodolite, atur focus adjutsman jika obyek terlihat buram atau tidak
fokus, sehingga obyek di permukaan tanah atau lantai terlihat dengan jelas
bersama garis silang frame target object. Semakin jauh obyek, pengukuran
semakin presisi asalkan obyek terlihat jelas dengan teleskop theodolite. Lihat
Gambar 8.5.
4.
Buatlah tanda titik kedua atau paku di permukaan
tanah atau lantai yang bersinggungan/ bertepatan dengan garis silang dari frame
target object, lalu beri nama titik tersebut dengan titik "B". Lihat
Gambar 8.5.
5.
Tariklah benang atau tali dari titik A ke titik B.
Dari titk A ke titik B itulah hasil pengukuran arah qiblat yang barusan
dilakukan. Lihat Gambar 8.5.

Gambar 8.5
KALKULASI KESALAHAN PENENTUAN ARAH QIBLAT
Kesalahan penentuan arah qiblat beberapa derajat dari arah yang sebenarnya
untuk daerah yang dekat dengan kota Makkah tidak terlalu mengkhawatirkan,
berbeda dengan daerah yang jauh dari kota Makkah, seperti Indonesia yang
jaraknya mencapai ±8500 km.
Dalam menentukan arah qiblat kota Surabaya dengan kesalahan 2° ke utara
dari arah sebenarnya, mengakibatkan penyimpangan arah kiblat ±300 km dari
ka'bah ke utara, ini masih bisa ditolerir karena masih belum keluar dari
wilayah Saudi Arabiyah.
Kesalahan tidak bisa ditolerir jika mencapai 5° lebih keutara, lebih-lebih
kesalahanya 5° ke selatan, karena akan mengakibatkan keluarnya arah qiblat dari
wilayah Saudi Arabiyah.
Kesalahanya 5° dari Surabaya mengakibatkan penyimpangan arah kiblat ±750 km
dari ka'bah.
Untuk mengetahui seberapa jauh penyimpangan arah qiblat dari ka'bah jika
dalam penentuan arah qiblatnya terjadi kesalahan beberapa derajat dari arah
yang sebenarnya, maka kita bisa menggunakan cara berikut ini.
Hitung terlebih dahulu jarak antara lokasi dengan ka'bah dengan rumus sebagai
berikut :
l = bujur tempat
lk = bujur ka'bah
f = lintang tempat
fk = lintang ka'bah
E =
l -
lk
M =
cos-1 ( sin
f x sin
fk + cos
f x cos
fk x cos E )
Km = M
/ 360 x 6,283185307 x 6378,388
Contoh perhitungan jarak antara Ka'bah dengan Masjid Akbar Surabaya (
l : 112° 42' 54,47"
f : -7° 20' 11,91" )
Buka file "001_arah_qiblat", lalu pilih sheet “Latihan Arah
Qiblat”.
E(F20) =
l -
lk
= F7-F5 = 72,88763056
M(F21) =
cos-1 ( sin
f x sin
fk + cos
f x cos
fk x cos E )
= ACOS(SIN(F6*dr)*SIN(F4*dr)+COS(F6*dr)*COS(F4*dr)*
COS(F20*dr))*180/PI() = 76,99536459
Km(F22) =
M /360 x 6.283185307 x 6378.388
=
F21/360 * 6,283185307 * 6378,388 =
8571,422079km
Jika jarak dari ka'bah ke lokasi sudah ditemukan selanjutnya gunakan rumus
berikut :
P = Km/SIN((180-S)/2)x
SIN S
P =
penyimpangan dari ka'bah dalam kilometer
Km =
jarak antara ka'bah dengan lokasi dalam kilometer
S =
sudut kesalahan dalam derajat
Km(F43) =
F22 = 8571,422079km
S (F44) = 5° = 5°
P (F46) =
Km/SIN((180-S)/2)x
SIN S
= F43/SIN(((180-F44)/2)*dr)*SIN(F44*dr) = 747,7603598km
Jadi dengan kesalahan 5 derajat mengakibatkan penyimpangan arah qiblat dari
ka'bah 747.7603598 kilometer.
MENGHITUNG TINGGI DAN AZIMUTH MATAHARI
Yang dimaksud azimuth adalah
arah yang patokannya diukur dari Utara=0° kemudian berputar searah jarum jam ke
Timur=90° terus ke Selatan=180° lalu ke Barat=270° dan kembali ke utara=360°/0°
Semua benda langit, baik bintang, matahari maupun bulan, pada saat yang
dikehendaki dapat dihitung berapa tinggi (altitude) maupun arah (azimuth) nya,
jika data-data yang diperlukan diketahui.
Adapun data-data yang
diperlukan untuk menghitung tinggi dan azimuth matahari adalah sebagai berikut:
1. Lintang tempat. 2.
Bujur tempat. 3. Time Zone.
4. Deklinasi matahari. 5. Equation of Time
Data bujur dan lintang tempat bisa kita dapatkan dari buku buku geografi, seperti Atlas
Indonesia dan Dunia, Taqwim Standar Indonesia, Tabel Geografis Kota-kota Dunia
dan lain-lainnya. Apabila kita kesulitan mencari data lintang dan bujur
tersebut, maka kita bisa mengukurnya dengan bantuan GPS (global position
system) alat navigasi berbasis satelit yang didesain untuk mengkalkulasi
lintang dan bujur, serta ketinggian suatu tempat di permukaan bumi ini. Bagi yang
memakai komputer bisa menggunakan Atlas Encarta dan jika ada koneksi ke
internet akan lebih bagus menggunakan Google Earth.
DEKLINASI, EQUATION OF TIME DAN SEMI DIAMETER MATAHARI
Semua perhitungan yang berkenaan dengan matahari tidak bisa lepas dari apa
yang disebut dengan Deklinasi matahari, Equation of time maupun Semi
diameter matahari.
DEKLINASI MATAHARI : Declination
of the Sun, atau biasa disebut Mailusy Syamsi (ãíá ÇáÔãÓ) adalah jarak matahari dari Equator. Nilai deklinasi plus (+)
jika matahari di utara Equator dan mines (-) jika di selatan Equator. Pada tanggal 21 Juni matahari berada paling jauh di
utara equator dengan harga deklinasi 23° 27' dan pada tanggal 22 Desember
matahari berada paling jauh di selatan equator dengan nilai deklinasi -23° 27'.
Pada
tanggal 21 Maret dan 23 September matahari berada persis di equator dengan
harga deklinasi 0°. Di dalam rumus-rumus hisab, deklinasi ini biasa disebut dengan symbol
d (delta)
EQUATION OF TIME : Daqiuqut
Tafawwut, Ta’diluz Zaman, Ta’dilul Waqti, atau perata waktu, adalah
selisih antara waktu kulminasi matahari hakiki dengan waktu kulminasi rata-rata
matahari. Pada saat posisi bumi berada di posisi terdekat dengan matahari,
pergerakannya pada lingkaran ekliptika berlangsung lebih cepat daripada ketika
posisi bumi jauh dari matahari. Akibatnya
saat kulminasi matahari setiap hari selalu berubah, kadang persis jam 12:00,
kadang kurang dan kadang lebih. Kelebihan dan kekurangannya dari pukul 12:00 inilah
yang disebut dengan equation of time. Di dalam rumus-rumus hisab, equation of time ini biasa disebut dengan
simbol e° (huruf e kecil).
SEMI DIAMETER MATAHARI : Nisfu Qothris Syamsi adalah
lebar separo piringan matahari, biasanya diperlukan dalam menghitung waktu
maghrib dan terbit. Diameter matahari
±32' jadi nilai separo lingkaran matahari adalah
±16' . Di dalam rumus-rumus hisab, Semi Diameter Matahari
ini bisa disebut dengan symbol sd
Untuk mendapatkan Deklinasi,
Equation of time dan Semi diameter matahari yang presisi kita bisa
menghitungnya sendiri dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Langkah pertama untuk mendapatkan deklinasi, equation of time
serta semi diameter matahari adalah
menghitung JD (Julian Date) dari tanggal yang dimaksud kemudian menghitung
harokat-harokat matahari dengan cara sebagai berikut :
1.
Tentukan jam(Jm), menit dan detik dengan format jam
(00:00:00 / 00° 00' 00") dalam waktu gmt.
2.
Tentukan tanggal(D), bulan(M) dan tahun(Y) yang
dimaksud/
3.
Jika yang dihitung bulan Januari(1) atau
Februari(2) maka harga bulan ditambah 12 dan harga tahun(Y) dikurangi 1. misal
17 Februari 2007 maka D=17, M=14 dan Y=2006
Misalnya menghitung deklinasi,
equation of time serta semi diameter matahari pada tanggal 9 Januari 2010 pukul 17:49:82 WIB. dengan menggunakan Microsoft
Excel 2003.
Buka file "001_arah_qiblat", yang disertakan dalam tulisan ini,
lalu pilih sheet “Deklinasi”. Kemudian ikuti langkah-langkah berikut ini:
TZ(F6) =
7 time zone
D (F8) =
9 tanggal
M (F9) =
1 bulan masehi
Y
(F10) = 2010 tahun masehi
Kemudian
rubahlah tanggal, bulan dan tahun tersebut kedalam waktu GMT / universal date
dengan menggunakan fungsi date
F13 = DATE(F10;F9;F8) + (F11-F6/24) = 09 Januari 2010
F14 = DAY(F13) =
9
F15 = MONTH(F13) =
1
F16 = YEAR(F13) =
2010
F17 = MOD(F13;1) UT(universal time) = 10:49:18
Jika bulan lebih kecil dari 3 maka bulan ditambah
12 dan tahun dikurangi 1
M (F19) =
Jika M<3 maka M+12
= IF(F15<3;F15+12;F15) = 13
Y (F20) =
Jika M<3 maka Y-1
= IF(F15<3;F16-1;F16) = 2009
B (F21) =
2-INT(Y/100)+INT(INT(Y/100)/4)
= 2-INT(F20/100)+INT(INT(F20/100)/4) = -13
JD(F22) =
INT(365,25x(Y+4716))+INT(30,6001 x(M+1))
+ D + UT + B - 1524,5
= INT(365,25 *(F20+4716))+INT(30,6001
*(F19+1))
+F14+(F17) + F21 - 1524,5 = 2455205,951
T (F23) =
(JD - 2451545)/36525
= (F22 - 2451545)/36525 = 0,100231373
S (F25) =
FRAC((280,46645+36000,76983 x T)/360)x 360
= MOD((280,46645 + 36000,76983
* F23)/
360;1)*360 =
288,873043
M (F26) =
FRAC((357,5291+35999,0503 x T)/360)x 360
= MOD((357,5291+35999,0503
* F23)/
360;1)*360 =
5,763342161
N (F27) =
FRAC((125,04 -1934,136 x T)/360)x 360
= MOD((125,04-1934,136
*F23)/360;1)*360 = 291,1788929
Kemudian menghitung beberapa koreksi
Kr1 (F29) = (17,264/3600)* SIN N +(0,206/3600)x
SIN(2 x N)
= (17,264
/3600)* SIN(F27* Dr)+(0,206
/3600) * SIN(2 *F27* Dr) =-0,004510203
Kr2 (F30)= (-1,264 /
3600) * SIN(2 x S)
= (-1,264 / 3600) * SIN(2 * F25* Dr) = 0,000214937
Kr3 (F31)= (9,23
/3600)x COS N -(0,09/3600)x COS(2 x N)
= (9,23 /3600)* COS(F27* Dr) -(0,09/3600)
* COS(2 * F27 * Dr) = 0,000944758
Kr4 (F32) = (0,548/3600) x COS(2 x S)
= (0,548/3600)* COS(2 * F25* Dr) =-0,000120367
Q' (F34) = 23,43929111 + Kr3 + Kr4 -(46,815/3600)x T
= 23,43929111+F31+F32-(46,815/3600)*F23 = 23,43881208
E (F35) = (6898,06/3600)x
SIN M +(72,095/3600)x
SIN(2 x M)+(0,966
/3600)
= (6898,06/3600)*SIN(F26 * Dr)+(72,095/3600)
* SIN(2*F26*Dr)+(0,966
/3600) = 0,196498586
S' (F36) = S + E + Kr1 + Kr2 -(20,47/3600)
= F25 + F35 + F29 +F30 -(20,47/3600) = 289,0595602
d (F37) = sin-1 ( sin S' x sin Q')
= ASIN(SIN(F36*Dr)*SIN(F34*Dr))*180/PI() =-22,08388262
Kemudian menghitung Matholik Mustaqimah /
Panjatan Tegak(PT)
PT = tan-1 (tan S' x cos Q')
√
Jika S' antara 0-90 maka
PT= PT
√
Jika S' antara 90-270
maka PT= PT + 180
√
Jika S' antara 270-360
maka PT= PT + 360
Logika
diatas kalau di dalam excel formulanya sebagai berikut
Pta (F39)= ATAN(TAN(F36*Dr)*COS(F34*Dr))*180/PI() =-69,36549638
Ptb (F40)= IF(AND(F36 >= 0; F36<=
90);F39;0) = 0
Ptc (F41)= IF(AND(F36 >=90; F36<=
270);F39+180;0) = 0
Ptd (F42)= IF(AND(F36 >=270;
F36<=360);F39+360;0) = 290,6345036
PT (F43) = SUM(F40:F42) =
290,6345036
e (F44) = (S
- PT) / 15
= (F25 -F43) / 15 =-0,117430707
s.d (F45) = 0,267 /(1 - 0,017 x COS M)
= 0,267 /(1 - 0,017 * COS(F26* Dr)) = 0,271593755
Kesimpulan dari perhitungan tersebut pada
tanggal 9 Januari 2010 pukul 17:49:18 WIB data-data matahari sebagai berikut :
Deklinasi = -22,08388262 = -22° 05' 02”
Equation
of time =
-0,117430707 = -00° 07' 03”
Semi
diameter = 0,271593755 = 00° 16' 18”
ALGORITMA AZIMUT DAN ALTITUDE
MATAHARI
Sebelum menghitung ketinggian matahari maupun azimutnya kita harus
menghitung lebih dahulu sudut waktu ( t ) / Fadllud Dair matahari pada
jam tersebut.
A. Rumus untuk menghitung sudut
waktu matahari (t)
wh = wd + e – ( bwd – λ ) /15
t =
(wh – 12 ) x 15
wh =
singkatan dari waktu haqiqi (waktu Istiwak) yakni waktu yang didasarkan
pada
peredaran matahari haqiqi, yakni
ketika matahari di atas zenit dianggap jam 12.
wd =
waktu yang dikehendaki (local time)
bwd =
patokan bujur daerah misalnya WIB = 105°, WITA = 120° dan WIT = 135° untuk
mendapatkan nilai bwd maka time zone
x 15
B. Rumus untuk menghitung tinggi
matahari haqiqi
h = sin-1(sin
f x sin δ +
cos
f x cos
δ x cos t)
Dip
Ketinggian diatas adalah tinggi matahari berdasarkan
ufuk haqiqi yakni yang dianggap ufuk adalah titik zenit ditarik vertikal ke
kaki langit 90°. Apabila kita melihat/mengukur ketinggian matahari dari ufuk
mar'I yakni ufuk yang terlihat oleh mata maka perlu dikoreksi dengan Dip
yakni kerendahan ufuk yang disebabkan tingginya tempat, karena apabila kita
melihat ufuk dari ketinggian 1000 meter tentu sudutnya akan berbeda +-1° jika
melihatnya dari nol meter.
Lihat gambar 9.0

Gambar 9.0
dip = (1.76 / 60 ) x tinggi
Refraksi
Apabila
hasil perhitungan tinggi matahari mendekati ufuk seperti pagi hari atau sore
hari maka ketinggian matahari perlu dikoreksi dengan Refraksi yakni
pembelokan cahaya karena posisi matahari menjauhi titik zenit. Semakin dekat
dengan ufuk maka semakin tinggi nilai refraksinya, sehingga posisi matahari
terlihat semakin tinggi dari posisi sebenarnya. Rumusnya sebagai berikut :
p =
1010 mb (Standar
tekanan udara)
tmp =
30° c (Standar suhu
udara)
f =
0.28 x p / ( tmp +273)
r =
0.0167 / tan (h + 7.31 / ( h + 4.4))
ref =
f x r
Jadi untuk menghitung tinggi matahari mar'I maka
sebagai berikut:
h' =
h + dip + ref
C. Rumus untuk menghitung azimuth matahari
az = tan-1(tan δ x cos
f / sin t – sin
f / tan t )
Þ Lihat nilai wh, jika
nilai wh lebih kecil dari 12 maka az = az + 90
Þ Lihat nilai wh, jika
nilai wh lebih besar dari 12 maka az = az + 270
CONTOH PERHITUNGAN
Menghitung Altitude dan Azimuth matahari pada
tanggal 9 Januari 2010 pukul 17:01:18 WIB. dengan markas Masjid Akbar Surabaya (l:112°42'54,47"
f :-7° 20'11,91")
Buka file "001_arah_qiblat", yang disertakan dalam tulisan ini,
lalu pilih sheet “Deklinasi”. Kemudian ikuti langkah-langkah berikut ini:
Data-data
yang diperlukan
1.
Lintang (F52)= -7,336641667 = -7° 20' 11,91"
2.
Bujur (F53)=
112,7151306 = 112° 42' 54,47"
3.
Time zone (F54)= 7
4. Deklinasi (F59)= -22,08864056 = -22° 05' 19"
5. Eq of time (F60)= -0,11720102 = -0° 07' 02”
Menghitung sudut waktu matahari
Wh (F62) =
wd + e – ( bwd –
l ) /15
= F57+F60-(F55-F53)/15 =
17,41880768
T (63) = (wh – 12 ) x 15
=
(F62 - 12) * 15 = 81,28211526
Menghitung tinggi matahari
haqiqi
H (F64) = sin-1(sin
f x sin δ +
cos
f x cos δ x cos t)
= ASIN(
SIN(F52*Dr)*SIN(F59*Dr)+COS(F52*Dr)
*
COS(F59*Dr)*COS(F63*Dr))*180/PI() = 10,79612099
Menghitung azimuth matahari
Az (F65) = tan-1(tan δ x cos
f / sin t – sin
f / tan t )
= ATAN(TAN(F59*Dr)*COS(F52*Dr)/SIN(F63*Dr)-
SIN(F52*Dr)/TAN(F63*Dr))*180/PI() = -21,1877063
Þ Lihat nilai wh, jika
nilai wh lebih kecil dari 12 maka az = az + 90
Þ Lihat nilai wh, jika
nilai wh lebih besar dari 12 maka az = az + 270
Az (F66) = IF(F62<12;F65+90;F65+270) = 248,8122937
Kesimpulan data matahari pada tanggal 9 Januari 2010 pukul 17:01:18 WIB. dengan markas
Masjid
Akbar Surabaya (l:112°42'54,47"
f : -7° 20'11,91") Sebagai berikut
:
Deklinasi : -22,08864056 -22° 05' 19" Eq
of time : -0,11720102 -0° 07' 02”
Azimut : 248,8122937 248° 48' 44'' Altitude : 10,79612099 10° 47' 46''
Untuk pembanding dalam perhitungan arah qiblat, anda bisa membuka halaman Qiblat Kota-Kota di Indonesia atau downloadnya dalam format Excel
Download makalah ini dalam format PDF Alternatif download 4Shared
Penulis adalah :
Anggota ICOP (Islamic Crescents' Observation Project); Pelaku Rukyat Lajnah Falakiyah PBNU
Staf Lajnah Falakiyah NU Kabupaten Gresik; Koordinator Rukyah Hilal Indonesia wilayah Gresik
Litbang Forum Kajian Falak
Jawa Timur