Bulan Purnama dan Mitos Tanggal 15 (catatan Ilmu Falak)

oleh Ma'rufin Sudibyo pada 13 Oktober 2011 pukul 15:33
 
Bulan dalam fase purnama telah terjadi pada Rabu 12 Oktober 2011 pukul 09:05 WIB dengan besar fasenya 99,86 %. Inilah Bulan purnama, yang terjadi tatkala Bulan berada pada jarak 406.381 km dari Bumi (dihitung dari pusat Bumi ke pusat Bulan). Sehingga bila dilihat dari Bumi, cakram Bulan pada saat Bulan purnama ini memiliki diameter nampak 28,98 menit busur alias 0,484 derajat. Ini menjadikannya sebagai diameter nampak terkecil Bulan purnama sepanjang tahun 2011.

Meski demikian, Bulan purnama kali ini tidaklah seheboh Bulan purnama satu lunasi Hijriyyah silam, saat persoalan beda lebaran masih mengemuka untuk dibicarakan. Meski perbedaan dalam ber-Idul Fitri 1432 H senyatanya lebih disebabkan oleh perbedaan dalam mendefinisikan hilaal khususnya secara kuantitatif (http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150351186909595), yang berujung pada perbedaan dalam pemilihan kriteria awal lunasi Hijriyyah, namun ada pula upaya untuk menjustifikasi penetapan 1 Syawwal 1432 H berdasarkan kenampakan Bulan purnama. Asumsi yang dibangun adalah, Bulan purnama selalu bertepatan dengan tanggal 15 Hijriyyah, seperti dinyatakan dalam ilustrasi berikut ini.


Gambar 1

 

1. Terminologi

Sebelum berbicara lebih lanjut, mari mantapkan dulu terminologinya. Bulan yang dimaksud di sini adalah satelit alami Bumi, yang setia beredar mengelilingi Bumi dengan orbit dan pola yang khas. Sementara lunasi Hijriyyah di sini adalah istilah ilmu falak untuk bulan Hijriyyah atau bulan kalender Hijriyyah. Karena bulan kalender (dengan huruf b kecil) adalah homonim dengan Bulan (dengan huruf b besar), maka untuk membedakannya digunakan istilah lunasi Hijriyyah.

Mari ulas pula soal kriteria awal lunasi Hijriyyah yang mengerucut pada dua kutub di Indonesia. Kutub pertama adalah kriteria wujudul hilal, yang secara kualitatif berbunyi awal lunasi Hijriyyah telah terjadi tatkala Bulan terbenam lebih lambat dibanding Matahari selepas terjadinya konjungsi Bulan-Matahari atau ijtima'. Dalam bahasa ilmu falak, secara kuantitatif kriteria ini dituliskan sebagai Lag > 0 menit, dimana Lag = selisih waktu terbenamnya Bulan terhadap Matahari. Lag bernilai positif jika Bulan terbenam lebih akhir dibanding Matahari dan sebaliknya bernilai negatif bila Bulan terbenam lebih awal.

Sementara kutub kedua adalah kriteria imkan rukyat, yang secara kualitatif berbunyi awal lunasi Hijriyyah telah terjadi tatkala hilaal berpotensi terlihat kala Matahari terbenam selepas ijtima'. Dalam bahasa ilmu falak, secara kuantitatif kriteria ini dituliskan sebagai :

a. tinggi nampak (mar'i) Bulan > 2 derajat,

b. jarak sudut (elongasi) Bulan-Matahari > 3 derajat,

c. umur Bulan > 8 jam selepas ijtima'.

Berdasarkan keputusan Cisarua 1998 (sebelum kemudian diperbaiki dengan keputusan Cisarua 2011), ketiga syarat dalam kriteria imkan rukyat tersebut harus terpenuhi semuanya agar awal lunasi Hijriyyah terjadi. Jika salah satu saja tak terpenuhi, maka awal lunasi pun belum terjadi dan berlangsung istikmal.

Siapa-siapa yang menggunakan kriteria wujudul hilal dan imkan rukyat tidak dipaparkan di sini, karena sudah cukup jelas.

Kita perlu juga mendeskripsikan hari dalam konteks Hijriyyah. Yang dimaksud hari adalah satuan waktu atau satuan masa yang berawal dari terbenamnya Matahari (ghurub atau sunset) dan berakhir pada terbenamnya Matahari berikutnya yang berurutan. 

2. Bulan Purnama

Purnama dalam perspektif ilmu falak adalah kondisi dimana sebuah benda langit memiliki fase terbesar bila dilihat dari sebuah titik observasi. Fase yang dimaksud di sini adalah perbandingan luas bagian cakram benda langit yang tersinari Matahari terhadap luas cakramnya secara keseluruhan. Aplikasinya pada Bulan purnama menghasilkan definisi Bulan purnama adalah Bulan dengan fase terbesar atau Bulan dengan perbandingan luas bagian cakramnya yang tersinari Matahari terhadap luas cakramnya secara keseluruhan adalah yang terbesar saat dilihat dari Bumi.

Ilmu falak menggarisbawahi bahwa fase Bulan hanyalah dipengaruhi oleh jarak sudut (elongasi) antara Bulan dan Matahari. Dengan demikian Bulan purnama terjadi tatkala elongasi Bulan-Matahari mencapai nilai maksimum. Karena nilai elongasi Bulan-Matahari berubah secara dinamis dengan nilai perubahan rata-rata adalah 0,5 derajat per jam, maka fase Bulan pun demikian. Jika fase Bulan diplotkan pada sebuah kurva berdasarkan waktunya, maka jelas bahwa Bulan purnama (alias fase terbesar) hanyalah terjadi sesaat dalam kurun waktu perubahan fase Bulan tersebut. Sehingga Bulan purnama pun merupakan peristiwa sesaat, bukan peristiwa berjangka lama (misalnya selama 24 jam penuh). Dengan demikian kejadian Bulan purnama adalah identik dengan konjungsi Bulan-Matahari yakni sama-sama sebagai kejadian sesaat. Bedanya, konjungsi Bulan-Matahari terjadi saat fase Bulan paling kecil sementara purnama pada saat fase Bulan bernilai paling besar. Jika konjungsi Bulan-Matahari dikenal sebagai ijtima', maka Bulan purnama dalam ilmu falak dikenal sebagai oposisi Bulan-Matahari atau istikbal. Menjelang purnama, Bulan berada dalam situasi jelang purnama dan sebaliknya setelah purnama memasuki situasi lepas purnama.


Gambar 2

Berlawanan dengan pendapat umum bahwa Bulan purnama terjadi saat fase Bulan bernilai 100 %, ilmu falak menggarisbawahi bahwa mayoritas Bulan purnama tidak pernah mencapai fase Bulan 100 %, melainkan antara 99 hingga 100 %. Kecuali pada saat gerhana Bulan, dimana fase 100 % secara teoritis akan tercapai namun secara visual takkan terlihat karena peristiwa gerhana tersebut. Situasi ini terjadi karena orbit Bulan tidaklah tepat sejajar dengan ekliptika (bidang edar Bumi mengelilingi Matahari), melainkan miring (berinklinasi) 5 derajat. Sehingga pada saat Bulan purnama, elongasi Bulan-Matahari adalah antara 175 derajat hingga 180 derajat. Situasi yang sama pun terjadi pada saat ijtima', dimana elongasi Bulan-Matahari adalah antara 0 derajat hingga 5 derajat.

Pada saat jelang purnama-purnama-lepas purnama, perubahan-perubahan fase Bulan adalah cukup kecil sehingga sangat sulit diidentifikasi oleh mata manusia. Maka, mata manusia bukanlah detektor yang baik bagi Bulan purnama (lihat gambar 3). Identifikasi terjadinya Bulan purnama hanya bisa dilakukan lewat teknik astrofotografi ataupun dengan observasi peristiwa gerhana Bulan.


Gambar 3

3. Pengujian lewat Gerhana Bulan

Gerhana Bulan merupakan suatu peristiwa dimana Bulan, Bumi dan Matahari berada dalam satu garis lurus (syzygy line) sehingga Bulan memasuki kawasan yang tak tersinari Matahari di belakang Bumi. Penyinaran Matahari terhadap bola Bumi menghasilkan dua jenis kerucut bayang-bayang, yakni umbra dan penumbra. Umbra merupakan bayang-bayang inti, yakni kawasan yang sama sekali tak tersinari Matahari. Sedangkan penumbra adalah bayang-bayang tambahan, yakni kawasan yang masih mendapatkan penyinaran Matahari namun lebih kecil dibanding normalnya.

Sebagai akibatnya, maka ada tiga jenis gerhana Bulan, yakni Gerhana Bulan Total (GBT), Gerhana Bulan Sebagian (GBS) dan Gerhana Bulan Penumbral (GBP). GBT dan GBS terjadi karena Bulan memasuki baik umbra maupun penumbra, dimana pada GBT Bulan sepenuhnya memasuki umbra sementara dalam GBS hanya sebagian Bulan yang memasuki umbra. Sebaliknya pada GBP, Bulan sama sekali tak menyentuh umbra dan hanya memasuki penumbra, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Secara visual, mata manusia hanya mampu mengidentifikasi GBT dan GBS, sementara GBP hanya bisa diidentifikasi lewat alat bantu optik seperti teleskop.


Gambar 4

Setiap jenis gerhana Bulan senantiasa melewati tahap kontak awal, puncak gerhana dan kontak akhir. Pada GBT dan GBS, tahap-tahap itu secara terperinci terdiri dari kontak awal penumbra (P1), kontak awal umbra (U1), puncak gerhana, kontak akhir umbra (U4) dan kontak akhir penumbra (P4). P1 dan U1 masing-masing adalah saat cakram Bulan tepat mulai bersentuhan dengan penumbra dan umbra. Demikian pula U4 dan P4 masing-masing adalah saat cakram Bulan tepat meninggalkan umbra dan penumbra. Sementara pada GBP hanya ada tahap P1, puncak gerhana dan P4. Dalam semua jenis gerhana, puncak gerhana terjadi pada saat yang snagat berdekatan dengan istikbal, sehingga puncak gerhana merupakan identifikasi bagi saat Bulan purnama. Dengan demikian observasi terhadap gerhana Bulan dapat digunakan untuk menentukan saat purnama, sekaligus mengevaluasi apakah saat purnama bertepatan dengan tanggal 15 Hijriyyah atau tidak.

Disini dipilih kejadian gerhana Bulan dalam bentuk GBT atau GBS yang pernah terjadi di Indonesia sepanjang 2007 - 2011 dan mendapatkan perhatian luas. Seluruh elemen Bulan yang ditabulasikan di sini, baik pada saat sunset di hari konjungsi Bulan-Matahari maupun saat gerhana, adalah berdasarkan titik pengamatan di kota Yogyakarta (DIY).


Gambar 5

GBT 28 Agustus 2007 (lihat gambar 5) terjadi pada lunasi Sya'ban 1428 H. GBT ini tak dapat diamati secara utuh karena sebagian tahapnya telah terjadi tatkala Bulan belum terbit dari Indonesia. Nampak bahwa dalam penetapan tanggal 1, baik wujudul hilal maupun imkan rukyat menghasilkan angka yang sama alias kompak. Puncak GBT terjadi pukul 17:38 WIB atau hanya berselisih 1 menit dengan saat istikbal berdasarkan hasil perhitungan. Jika dikorelasikan, seluruh tahap GBT ini terjadi pada tanggal 15 - 16 Sya'ban 1428 H dengan istikbalnya sendiri terjadi tepat pada saat Matahari terbenam bagi Yogyakarta, yang membuat kota ini berada pada perbatasan antara tanggal 15 dan 16. Artinya, wilayah Indonesia di sebelah timur Yogyakarta sudah memasuki tanggal 16 pada saat istikbal terjadi sementara yang berada di sebelah barat Yogyakata masih tanggal 15 saat istikbal terjadi.


Gambar 6

Sementara GBS 17 Agustus 2008 (lihat gambar 6) terjadi pada lunasi Sya'ban 1429 H. Berbeda dengan sebelumnya, GBT ini dapat diamati secara utuh seluruh tahapnya dari sebagian besar wilayah Indonesia. Nampak bahwa dalam penetapan tanggal 1, baik wujudul hilal maupun imkan rukyat menghasilkan angka yang sama alias kompak. Puncak GBT terjadi pukul 04:11 WIB atau hanya berselisih 5 menit dengan saat istikbal berdasarkan hasil perhitungan. Jika dikorelasikan, seluruh tahap GBS ini terjadi pada tanggal 15 Sya'ban 1429 H dengan istikbal pun pada tanggal 15 bagi seluruh wilayah Indonesia.


Gambar 7

Sedangkan GBT 26 Juni 2010 (lihat gambar 7) terjadi pada lunasi Rajab 1431 H. GBS ini juga tak dapat diamati secara utuh karena sebagian tahapnya telah terjadi tatkala Bulan belum terbit dari Indonesia. Nampak bahwa dalam penetapan tanggal 1, baik wujudul hilal maupun imkan rukyat menghasilkan angka yang sama alias kompak. Puncak GBT terjadi pukul 18:39 WIB atau hanya berselisih 9 menit dengan saat istikbal berdasarkan hasil perhitungan. Jika dikorelasikan, seluruh tahap GBS ini terjadi pada tanggal 13 - 14 Rajab 1431 H dengan istikbalnya sendiri terjadi sebelum Matahari terbenam. Sehingga istikbal terjadi saat masih tanggal 13 khususnya bagi sebagian wilayah Indonesia di barat, sementara sebagian lainnya sudah memasuki tanggal 14.

 
Gambar 8

GBT 16 Juni 2011 (lihat gambar 8) terjadi pada lunasi Rajab 1432 H. GBT ini dapat diamati secara utuh seluruh tahapnya dari sebagian besar wilayah Indonesia. Nampak bahwa dalam penetapan tanggal 1, baik wujudul hilal maupun imkan rukyat menghasilkan angka yang sama alias kompak. Puncak GBT terjadi pukul 03:12 WIB atau hanya berselisih 1 menit dengan saat istikbal berdasarkan hasil perhitungan. Jika dikorelasikan, seluruh tahap GBT ini terjadi pada tanggal 14 Rajab 1432 H dengan istikbal pun pada tanggal 14 bagi seluruh wilayah Indonesia.

4. Kesimpulan

Cuplikan dari empat peristiwa gerhana Bulan yang berbeda sepanjang 2007 - 2011 meruntuhkan asumsi bahwa Bulan purnama selalu bertepatan dengan tanggal 15. Bulan purnama, atau oposisi Bulan-Matahari, atau istikbal, ternyata bisa terjadi pada tanggal 13, 14, 15 ataupun 16 Hijriyyah, baik menurut wujudul hilal maupun imkan rukyat. Dalam pengembangan lebih lanjut, menetapkan tanggal 1 Hijriyyah berdasarkan interpolasi balik Bulan purnama adalah membangun asumsi di atas asumsi yang telah runtuh. Sehingga justru malah membingungkan. Karena bisa terjadi, bila dari saat Bulan purnama ditarik mundur 15 hari guna menetapkan tanggal 1, maka tanggal 1 tersebut justru bertepatan dengan situasi sebelum Bulan dan Matahari mengalami konjungsi.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Bulan purnama tidak dapat dijadikan sebagai indikator tanggal 15 Hijriyyah. Jika dibalik, tanggal 15 Hijriyyah selalu bertepatan dengan Bulan purnama adalah mitos.